Kamis, 02 Desember 2010

Asap Rokok Kandung 4.000 Zat Kimia Berbahaya

Asap rokok mengandung lebih dari 4.000 zat kimia berbahaya seperti karbon monoksida, sianida, uap fosfor, uap senyawa belerang, dan uap hasil pembakaran zat tambahan, kata mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kartono Muhammad.

"Bahaya asap rokok 10 kali lebih besar daripada zat `ter` dalam rokok," katanya pada lokakarya Menuju Kawasan Tanpa Rokok 100 Persen di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di Asri Medical Center (AMC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin.

Oleh karena itu, menurut dia, asap rokok lebih membahayakan perokok pasif daripada perokok aktif. Dalam asap rokok kadarnya beberapa kali lebih besar dibanding yang diserap oleh perokok aktif.

"Dalam satu batang rokok mengandung sekitar 1,5 persen nikotin. Endapan asap rokok yang berupa hasil pembakaran nikotin mudah melekat di benda-benda dalam ruangan, dan bisa bertahan sampai lebih dari tiga tahun, dan tetap berbahaya," katanya.

Advisor Indonesia Institute Social for Development Sudibyo Markus mengatakan Indonesia merupakan konsumen rokok peringkat tiga terbesar di dunia setelah China dan India.

Menurut dia, sekitar 240 miliar batang rokok telah dihisap oleh 240 juta penduduk Indonesia. Tingginya jumlah perokok tersebut disebabkan masih rendahnya kesadaran mengenai bahaya nikotin dalam rokok.

Selain itu, juga masih adanya anggapan di kalangan masyarakat bahwa rokok adalah warisan budaya. Anggapan tersebut membuat sebagian besar masyarakat enggan untuk meninggalkan kebiasaan merokok.

"Kondisi itu ditambah dengan iklan-iklan di media yang menganggap bahwa merokok adalah gaul, modern, dan jantan," katanya.

Rektor UMY Dasron Hamid mengatakan aturan mengenai larangan merokok penting diterapkan di ruang-ruang publik, karena asap rokok berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Aturan tersebut diharapkan dapat diimplementasikan di ruang-ruang publik terutama sekolah, kampus, dan kantor. Dengan adanya aturan itu diharapkan nanti seluruh ruang publik bisa benar-benar 100 persen bebas rokok," katanya.

Sumber : Antara, 30 November 2010

Sabtu, 30 Oktober 2010

Kembalikan senyumku


Sekian lama mendung masih disini
Belum permisi tinggalkan pengap didada
Kecewanya hatiku hilangkan relung hati
Hampir saja ku mati mati rasa padamu

Kembalikan lagi senyumku yang manis seperti dulu
Ku rasa kini aku tertahan
Menahan luka yang amat dalam

Kembalikan lagi senyumku aku tak betah begini
Semenjak hati dan jiwa luka
Ku kehilangan senyum

Sekian lama mendung masih disini
Belum permisi tinggalkan pengap didada

Kembalikan lagi senyumku yang manis seperti dulu
Ku rasa kini aku tertahan
Menahan luka yang amat dalam

Kembalikan lagi senyumku aku tak betah begini
Semenjak hati dan jiwa luka
Ku kehilangan senyumku

Kembalikan lagi senyumku aku tak betah begini
Semenjak hati dan jiwa luka
Ku kehilangan senyum

Lyric of Melly Goeslaw's song

Kamis, 28 Oktober 2010

Dunia 3x4meter

kuat... patah... hitam dan putih... gelap, terang dan abu-abu... selalu berganti... dan akan terus berganti...

pilihan... bersandar saat tak bisa tegar... bersembunyi, diantara pelik ironi... menyulam mimpi diantara langit kusam, mencoba tegak diantara kayu-kayu keropos...

dunia, dimana maya seringkali mendominasi... malaikat dan iblis, ketika saatnya diperankan, sang bijak dan alter ego tak lelahnya berseteru... dan bekunya, menjadi saksi para pendosa dan pencari surga...


by Pipit Puspitasari on Sunday, May 17, 2009 at 6:11pm

Habis...

jalanan... menamparkan kenyataan...

sempurna, tak adakan sebuah kehidupan...

kesalahan... mencabik habis, semua cita yang terbentang...

menghujat, bertanya, menunjuk... bukan lagi saatnya... toh nila sudah jatuh kedalam susu sebelanga... tak bisa dipisahkan lagi bukan?

melihat kedepan adalah jalan satu-satunya, karena hidup untuk masa depan... bukan masa lalu...

=3 mei 2009= just survive ur self...

by Pipit Puspitasari on Sunday, May 17, 2009 at 5:43pm

Phie-M1 (hidup itu...seperti air)

Jangan jadi bintang karna ia terlalu jauh untuk di jangkau, karna ia hanya terlihat jika hari telah gelap gulita. jangan jadi bulan karna ia tak bisa mandiri. tak bisa bersinar tanpa matahari. Tapi jika termotivasi, liatlah air dan belajarlah darinya. Bukankah hidup qta seperti air. Perjalanan panjang ia tempuh untuk sampai ke lautan. walaupun melewati batu-batuan, tebing terjal di pegunungan, pori-pori di dalam tanah, sampai lorong2 kecil selokan toh suatu hari ia tetap sampai ke tujuannya...Lautan! Dalam perjalannya sang air sering kali berubah menjadi air es, embun, air untuk kebutuhan manusia sampai akhirnya menjadi air limbah. Dan siklus ini akan terus berulang ketika matahari menguapkannya ke angkasa dan mengembalikannya menjadi hujan untuk kemudian berjuang kembali menjadi air...untuk kembali menemukan lautan...bagiti dan begitu seterusnya.

ya, jadi air... air yang selalu menghargai setiap perubahan dalam hidupnya... Walaupun jadi uap, es, atau embun...toh dasarnya tetaplah air. Dan yang paling penting... Menjadi air yang bermanfaat...bukan sebaliknya!! iya gak?hehehe 

by Pipit Puspitasari on Sunday, May 17, 2009 at 4:28pm

Kamuflase!! (suara satu jiwa)

Kutatap selembar jaminan masa depan, yang KATANYA buat negara!
Padahal, Tak lebih sebagai jaminan kehidupan mereka,

Yang berebut mengisi daftar panjang, sebagai aristokrat dadakan!
Menjadi malaikat karbitan dalam sekejap. Dermawan semusim yang haus kilatan, menjadi hedonis sepanjang sisa waktunya.

Menghafal janji di setiap tangga, dan tiba-tiba amnesia begitu sampai di puncaknya.
Menjanjikan kesejahteraan, legalitas di setiap cara menurut versinya, tapi anehnya apatis terhadap moral.

Si jujur, penuh loyalitas pasti ada, satu diantara seribu dalam kemungkinan, walaupun perampok yang nyata jelas mendominasi.


by Pipit Puspitasari on Sunday, May 17, 2009 at 3:30pm

Fatalisme nol besar!

si miskin bilang, memang sudah nasib... pesakitan bilang, memang sudah nasib... lalu... apa guna membanting tulang? apa guna obat di cipta?

sebrutal itukah, nasib mengintimidasi manusia?! atau, sepecundang itukah manusia, berlindung di balik kamuflase nasib!

seperti, tindakan bodoh Romeo yang katanya memilih bunuh diri, karna tak bisa terima nasib begitu mendengar juliet mati! Bunuh diri karena cinta?! ShiT!!! NOL BESAR!! Bukankah syarat cinta adalah bertahan hidup?

Nasib, tak ada harga mati untuknya...
Jadi, buang saja Fatalisme ke tempah sampah!!!

Jauh, diluar kehendak Tuhan atas manusia, Nasib itu, Dikendalikan tangan dan kaki... Bukan sebaliknya!!

by Pipit Puspitasari on Sunday, May 17, 2009 at 3:05pm
kaRya seorang saHabat yang teLah pergi jauh..mendahului kita kembali ke sisiNya